Setiap kota adalah perasaan. Setiap perasaan, sebuah cerita.
Cerita-cerita tentang pekerja Indonesia yang kebetulan menemui dirinya sendiri di kota-kota asing — bukan sebagai turis, bukan juga sebagai pelarian, tapi hanya sebagai manusia biasa yang membawa rindu ke seberang lautan.
F. Saputro menulis fiksi emotional diaspora: novel-novel sunyi tentang pekerja kelas menengah Indonesia di kota-kota transit, di mana musik menjadi rangka, dan kota menjadi arsitektur perasaan.
One Step at a Time — sebuah kisah cinta lintas budaya tentang seorang Manager Sourcing asal Indonesia yang tersesat di antara Pabrik Baja di Guangzhou dan masjid kecil di pinggir Sungai Pearl.
Kata 73,600
Bab 23
Q4 2026
§ 01 · Atlas Jiwa
— Peta Karya
Setiap pin adalah satu cerita.
Dari neon Tokyo ke salju Moskow, dari debu Guangzhou ke lembah sunyi Bhutan — setiap kota di peta ini menyimpan satu manuskrip, satu suara, satu pekerjaan rindu yang harus diselesaikan.
TokyoOmiyage · Rewind to Tokyo 1989
SeoulTertinggal di Stasiun Hongdae
GuangzhouSales dari Guangzhou
Paro · BhutanMalam di Lembah Paro
HormuzTravel of Soul Vol. 1
MoskowSalju, dan Keheningan Terakhir
WinaSenyap di Tengah Simfoni
TromsøAurora di Tromsø
DublinThe Long Room
Mars · Olympus MonsDi Tepi Olympus Mons
Telah Terbit Diserahkan / Menunggu Sedang Ditulis
§ 02 · Karya Pilihan
— Tiga Cerita
Tiga manuskrip yang sedang bernafas paling keras tahun ini.
F. Saputro · 2026
Sales dari Guangzhou
— One Step at a Time
广州 · 23.13°N 113.26°E
f.s.
Roman · IslamiGIP · Q4 2026
Sales dari Guangzhou
Roman lintas budaya tentang seorang Manager Sourcing muda dari Bekasi yang menemukan wajah yang seharusnya tidak dia temui di antara rak cable tray, masjid tua, dan secangkir teh yang ditiup tiga kali.
F. Saputro · 2025
Moskow, Salju, dan Keheningan Terakhir
Москва · 55.75°N 37.61°E
f.s.
Roman SastraGramedia · Juni ’26
Moskow, Salju, dan Keheningan Terakhir
Sebuah cinta yang ditulis dalam tempo Clair de Lune — diserahkan ke Gramedia Pustaka Utama, menunggu vonis seperti penumpang yang menatap papan keberangkatan.
Roman MusicalLovRinz · 2025
Senyap di Tengah Simfoni
Sebuah cinta yang lahir di antara partitur Dvořák dan kursi merah Wiener Konzerthaus — surat sastra untuk mereka yang pernah mencintai sesuatu lebih dari apa yang mereka bisa katakan.
§ 03 · Seluruh Karya
— Rak Buku
Tiga rak. Satu kompas yang sama.
Karya-karya disusun bukan berdasarkan tahun, melainkan berdasarkan suhu emosi: yang sudah dingin di rak, yang masih hangat di tangan editor, dan yang masih terbakar di kepala.
Universe
Travel of Soul
Antologi cerita kota-kota yang membentuk satu jagat naratif. Dimulai dari Vol. 1 (Tokyo · Amsterdam · Havana · Guangzhou · Hormuz).
VOL · I
Travel of Soul: The Beginning
Vol. I — The Beginning
Antologi · Terbit
VOL · II
Crossroads of the Heart
Vol. II — Crossroads
Sedang Ditulis
Novel Berdiri Sendiri
Cerita kota, cerita orang.
Roman-roman penuh, masing-masing satu kota, satu pekerjaan rindu, satu jiwa yang sedang transit.
广州
Sales dari Guangzhou
Sales dari Guangzhou
Romance Islamic · GIP · 2026
Vienna
Senyap di Tengah Simfoni
Senyap di Tengah Simfoni
Romance Musical· LovRinz . 2025
Москва
Moskow, Salju, Keheningan Terakhir
Moskow, Salju, dan Keheningan Terakhir
Romance Grief · Gramedia (semoga)
東京
Rewind to Tokyo 1989
Rewind to Tokyo 1989
Romance Nostalgia · Gramedia (semoga)
Mars · Olympus
Di Tepi Olympus Mons
Di Tepi Olympus Mons
Sci-Fi · Gramedia (semoga)
Sedang Ditulis
Yang masih terbakar.
Manuskrip yang sedang dikerjakan. Tampil di sini bukan sebagai janji, tapi sebagai catatan jujur — sebagian akan jadi, sebagian mungkin tidak.
Tromsø
Aurora di Tromsø
Aurora di Tromsø
Roman Duka · WIP
東京
Omiyage — 27 Cerita tentang Kamu
Omiyage
Romance Teen · On process
Paro
Malam di Lembah Paro, Bersamanya
Malam di Lembah Paro
Roman · On process
홍대
Tertinggal di Stasiun Hongdae
Stasiun Hongdae
Outline · 22 Bab
Baile Átha Cliath
The Long Room
The Long Room
Draf · 7 Bab
§ 04 · Tentang Penulis
Saya menulis tentang orang-orang yang tidak diundang untuk berkisah.
F. Saputro adalah nama pena seorang pengarang Indonesia yang sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan dagang di Jakarta. Sejak 2019, ia menulis novel-novel sunyi tentang pekerja kelas menengah Indonesia yang melintasi kota-kota dunia bukan untuk berlibur, melainkan karena pekerjaan, kewajiban, atau kebetulan yang menyamar sebagai takdir.
Tokoh-tokohnya adalah teknisi pabrik di Tokyo, sales di Guangzhou, perawat di Tromsø, mahasiswa pertukaran di Seoul — orang-orang biasa yang membawa rindu Indonesia ke seberang dan pulang membawa luka kecil yang tidak bisa dijelaskan kepada keluarga.
Kota adalah arsitektur perasaan. Musik adalah rangka cerita. Dan pekerja Indonesia di luar negeri layak mendapatkan martabat sastra.
Karyanya diterbitkan oleh Gema Insani Press dan LovRinz Publishing, dengan beberapa manuskrip menunggu hasil di Gramedia Pustaka Utama. Ia menulis dalam disiplin one step at a time — satu bab, satu lagu, satu kota dalam satu waktu.
Bahasa
Indonesia · Inggris
Penerbit
GIP · LovRinz · Gramedia
Pengaruh
Murakami · Ishiguro
§ 05 · Soundtrack
— Liner Notes
Setiap buku punya lagu pengantarnya.
Musik bukan latar belakang dalam karya saya — ia adalah rangka cerita. Berikut lagu-lagu yang menemani setiap manuskrip ditulis. Tekan tombol untuk membuka di Spotify.
01
Moskow, Salju, dan Keheningan Terakhir
Clair de LuneClaude Debussy · 1905
— Sunyi · Dingin · Ingatan
▶ Putar
02
Sales dari Guangzhou
Yīqǐ Zǒu (一起走)Mandarin folk · re-arr.
— Lembut · Cross-cultural
▶ Putar
03
Rewind to Tokyo 1989
Plastic LoveMariya Takeuchi · 1984
— City Pop · Nostalgia
▶ Putar
04
Senyap di Tengah Simfoni
Symphony No. 9, II. LargoAntonín Dvořák · 1893
— Klasik · Wina
▶ Putar
05
Aurora di Tromsø
Spiegel im SpiegelArvo Pärt · 1978
— Hening · Berkabung
▶ Putar
06
Omiyage — 27 Cerita tentang Kamu
First LoveHikaru Utada · 1999
— Muda · Gelisah · Tokyo
▶ Putar
§ 06 · Surat dari Penulis
Sesekali saya kirim kartu pos dari kota yang sedang saya tulis.
Setiap dua bulan, satu surat: cuplikan bab pertama, catatan riset, lagu yang saya dengarkan, foto kota yang saya kunjungi. Tanpa promosi berlebihan. Tanpa spam. Hanya catatan dari meja tulis.
← Kembali ke Atlas● Manuskrip · Diserahkan 2026Buku 03 / 12
F. Saputro · 2026
Sales dari Guangzhou
— One Step at a Time
广州 · Canton Fair · 23.13°N 113.26°E
f.s.
Roman · Islami · Lintas Budaya
Sales dari Guangzhou
Sebuah cinta yang tidak pernah dijanjikan, namun tidak juga ditolak. Kisah seorang sales muda dari Bekasi yang menemukan dirinya — dan seseorang — di antara hingar Canton Fair dan masjid kecil di tepi Sungai Pearl.
Reza, 28 tahun, berangkat ke Canton Fair untuk pertama kalinya — bukan untuk turisme, melainkan untuk mengunci kontrak yang akan menentukan apakah ia masih punya pekerjaan di kuartal berikutnya. Ia membawa kartu nama, jas yang sedikit kebesaran, dan satu surah pendek yang dihafalkannya sejak SMP.
Di sebuah masjid kecil di pinggir Sungai Pearl, ia bertemu Aisha — perempuan keturunan Hui yang lahir di Guangzhou tetapi menyimpan ingatan-ingatan yang tidak bisa ia akses sendiri. Pertemuan mereka tidak dramatis. Hanya secangkir teh yang ditiup tiga kali, dan bisu yang nyaman.
Selama tujuh hari di Guangzhou, Reza tidak jatuh cinta — atau lebih tepatnya, ia tidak menyebutnya begitu. Ia hanya merasa sesuatu di dadanya bergeser sedikit, seperti peti kemas tua yang mulai mau dibuka. Ketika ia kembali ke Jakarta, ia membawa pulang dua hal: satu kontrak yang tidak ia harapkan, dan satu pertanyaan yang tidak akan pernah ia tanyakan.
Catatan Penulis
“Saya menulis Reza karena saya pernah menjadi Reza — atau setidaknya, saya pernah duduk di samping Reza di pesawat ke Guangzhou. Buku ini bukan tentang cinta yang berhasil. Buku ini tentang cinta yang dibiarkan menjadi cerita, karena tidak semua perasaan layak dipaksa menjadi kepastian. Untuk semua sales muda Indonesia yang membawa kartu nama ke seberang lautan: ini surat untuk kalian.”
— F. Saputro, Jakarta, 2026
← Kembali ke Atlas● Telah Terbit · LovRinz PublishingBuku 04 / 12
Roman Musical · Sastra · Wina
Senyap di Tengah Simfoni
Sebuah cinta yang lahir di antara partitur Dvořák dan kursi merah konser yang kosong. Cerita tentang dua orang yang bertemu di kota musik — dan menyadari bahwa kadang, hal paling indah yang bisa dilakukan terhadap perasaan adalah membiarkannya tetap senyap.
Yang terdengar paling keras di gedung konser yang senyap.
Wina di musim gugur. Kota di mana setiap sudut menyimpan gema musik yang tak pernah benar-benar berhenti, di mana udara dingin membawa aroma kopi, kulit buku tua, dan jejak partitur yang ditinggalkan di kafe-kafe kecil.
Di sebuah gedung konser yang sepi pada malam latihan, dua orang bertemu — bukan karena alasan musik, melainkan karena keheningan yang sama-sama mereka cari. Salah satu dari mereka membawa luka yang tidak ingin disebut. Yang lain membawa lagu yang tidak pernah ia mainkan untuk siapa pun.
Selama satu musim di Wina, mereka belajar bahwa cinta tidak selalu butuh diucapkan. Kadang, ia hanya perlu didengarkan — di antara nada, di antara jeda, di antara bagian-bagian simfoni yang paling senyap. Sebuah cerita tentang bagaimana dua jiwa bisa saling menyentuh tanpa harus saling memiliki.
Catatan Penulis
“Saya menulis buku ini untuk semua orang yang pernah mencintai sesuatu — atau seseorang — lebih dari yang mereka mampu katakan. Untuk mereka yang menyimpan perasaan di tempat yang sama dengan mereka menyimpan lagu-lagu favorit: di balik dada, di antara nafas, di tempat yang tidak bisa dijangkau kata-kata. Wina hanya kebetulan jadi panggungnya. Sebenarnya, kota ini bisa siapa saja, dan kapan saja.”
— F. Saputro, Jakarta, 2025
Crafted with stories, built with soul. Let each volume take you home — to places, to memories, to yourself.